Sunday, December 14, 2014

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT PENYELENGGARAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKI

A.LATAR BELAKANG
Dalam menjalankan fungsi pembinaan upaya kesehatan, Direktorat Jenderal yang menyelenggarakan urusan di bidang bina upaya kesehatan Kementerian Kesehatan membutuhkan informasi yang handal, tepat, cepat dan terbarukan (up to date) untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan secara tepat. Sebagai salah satu bentuk fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan, Rumah Sakit sering mengalami kesulitan dalam pengelolaan informasi baik untuk kebutuhan internal maupun eksternal. sehingga perlu diupayakan peningkatan pengelolaan informasi yang efisien, cepat, mudah, akurat, murah, aman, terpadu dan akuntabel. Salah satu bentuk penerapannya melalui sistem pelayanan dengan memanfaatkan teknologi informasi melalui penggunaan sistem Sistem Informasi berbasis komputer.
Pesatnya kemajuan teknologi di bidang informasi telah melahirkan perubahan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kaitan ini, peran dan fungsi pelayanan data dan informasi yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit sebagai salah satu unit kerja pengelola data dan Informasi dituntut untuk mampu melakukan berbagai penyesuaian dan perubahan. Sistem Informasi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pelayanan data dan informasi dengan lebih produktif, transparan, tertib, cepat, mudah, akurat, terpadu, aman dan efisien, khususnya membantu dalam memperlancar dan mempermudah pembentukan kebijakan dalam meningkatkan sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang penyelenggaraan Rumah Sakit di Indonesia.
Banyak Rumah Sakit yang telah berupaya untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi, namun sebagian mengalami kegagalan, dan sebagian Rumah Sakit memilih untuk melakukan kerja sama operasional (outsourcing) dengan biaya yang relatif besar yang pada akhirnya ikut membebani biaya kesehatan bagi pasien/masyarakat. Berdasarkan hal tersebut di atas, Direktorat Jenderal yang menyelenggarakan urusan di bidang Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan memandang perlunya membangun kerangka acuan kerja (framework) dan perangkat lunak (software) aplikasi sistem informasi Rumah Sakit yang bersifat sumber terbuka umum (open source generic) untuk Rumah Sakit di Indonesia. Dengan adanya software aplikasi open source generik ini diharapkan Rumah Sakit di Indonesia dapat menggunakan, mengembangkan, mengimplementasi dan memelihara sendiri. Sehingga akan terdapat keseragaman data yang dikirim kepada Kementerian Kesehatan.

B.STRATEGI
Tata kelola sistem informasi yang baik harus selaras dengan fungsi, visi, misi dan strategi organisasi. Secara generik fungsi Rumah Sakit (menurut WHO tahun 1957), memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun rehabilitatif, dimana output layanannya menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan, Rumah Sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan serta untuk penelitian biososial. Rumah sakit juga merupakan pusat pelayanan rujukan medik spsialistik dan sub spesialistik dengan fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitasi pasien).
Dengan demikian secara umum sistem informasi Rumah Sakit harus selaras dengan bisnis utama (core bussines) dari Rumah Sakit itu sendiri, terutama untuk informasi riwayat kesehatan pasien atau rekam medis (tentang indentitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada pasien), informasi kegiatan operasional (termasuk informasi sumber daya manusia, material, alat kesehatan, penelitian serta bank data. Keberhasilan implementasi sistem informasi bukan hanya ditentukan oleh teknologi informasi tetapi juga oleh faktor lain, seperti proses bisnis, perubahan manajemen, tata kelola IT dan lain-lainnya. Karena itu bukan hanya teknologi tetapi juga kerangka kerja secara komprehensif sistem informasi Rumah Sakit.

C.PROSES BISNIS
1.Pelayanan Utama (Front Office)    
Setiap Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu dengan lainnya), tetapi secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan terintegrasi yang sama yaitu proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap) dan proses pulang.
Data yang dimasukan pada proses rawat akan digunakan pada proses rawat dan pulang. Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, bedah, invasive, diagnostic non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari dokter (misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan perawat.
Jadi dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit (seluruh order berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem ini sebagai order communation system.
2.Pelayanan Administratif (Back-Office)
Rumah Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang, mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor, barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan, pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses back office ini berhubungan/link dengan proses pada front office, digambarkan berikut ini.


Proses bisnis data tidak terstruktur
Proses-proses bisnis tersebut di atas yang melibatkan data-data terstruktur, yang dapat dikelola dengan relational database management system, selain itu terdapat proses bisnis yang melibatkan data yang tidak terstruktur seperti alur kerja, surat diposisi, email, manajemen proyek, kolaborasi, team work, manajemen dokumen dan sejenisnya.

D.ARSITEKTUR INFRASTRUKTUR 

Kebutuhan infrastruktur jaringan komputer kedepan bukan hanya untuk kebutuhan Sistem informasi RS saja, tetapi juga harus mampu digunakan untuk berbagai hal, seperti jalur telepon IP, CCTV, Intelegent Building, Medical Equipment dan lain-lain.  Untuk mendukung pelayanan tersebut, maka infrastruktur jaringan komunikasi data yang disyaratkan adalah:
• Meningkatkan unjuk kerja dan memudahkan untuk melakukan manajemen lalu lintas data pada jaringan komputer, seperti utilisasi, segmentasi jaringan, dan security.
  Membatasi broadcase domain pada jaringan, duplikasi IP address dan segmentasi jaringan menggunakan VLAN (virtual LAN) untuk setiap gedung dan atau lantai.
• Memiliki jalur backbone fiber optik dan backup yang berbeda jalur, pada keadaan normal jalur backup digunakan untuk memperkuat kinerja jaringan/redudant, tapi dalam keadaan darurat backup jaringan dapat mengambil alih kegagalan jaringan.
  Memanfaatkan peralatan aktif yang ada, baik untuk melengkapi kekurangan sumber daya maupun sebagai backup.
• Dianjurkan pemasangan oleh vendor jaringan yang tersertifikasi (baik perkabelan maupun perangkat aktif).
• Dokumentasi sistem jaringan lengkap (perkabelan, konfigurasi, uji coba, dan sejenisnya) baik hardcopy maupun softcopy.
• Mengingat penggunaan jaringan yang komplek kedepan, maka perangkat aktif mengharuskan pengelolaan bertingkat, seperti adanya:
a.      Core switch yang merupakan device vital dalam local area network di Rumah Sakit dimana core switch ini sebagai bacbone lan dan sentral switch yang berperan dalam prosessing semua paket dengan memproses atau men-switch traffic secepat mungkin).
b.      Distribution switch yang merupakan suatu device antara untuk keperluan pendistribusian akses antar core switch dengan access switch pada masing-masing gedung, dimana antara sebaiknya distribution switch dan core switch terhubung melalui fiber optic.
c.        Acces switch yang merupakan suatu device yang menyediakan user port untuk akses ke network.

E.ARSITEKTUR DATA
Untuk menghindari pulau-pulau aplikasi dan memudahkan Kementerian Kesehatan mengolah data yang homogen, maka perlu dibuat arsitektur data yang baik, untuk mengakomodir kebutuhan informasi para pengguna. Beberapa aspek harus diperhatikan dalam membangun arsitektur data:
1.Kodefikasi
Kodefikasi selain keharusan untuk otomatisasi/komputerisasi, juga diperlukan untuk integrasi dan penglolaan lebih lanjut seperti statistik.
2.Mapping
Karena sering berbeda keperluan kodefikasi data, maka diperlukan mapping data untuk integrasi dan pengelolaan lebih lanjut, misalnya mapping kodefikasi antara tarif dengan kode perkiraan/chart of account, mapping kode kabupaten/kota dengan provinsi dan sejenisnya.
3.Standar pertukaran data antar aplikasi
Beberapa software aplikasi yang terpisah, membutuhkan standard pertukaran data agar dapat berkomunikasi satu aplikasi dengan lainnya. Seperti Heath Level 7 (HL7), DICOM, XML dan sejenisnya.
4.Database
Desain struktur database, sebaiknya mengacu pada best practice database Rumah Sakit dan mengambil dari sumber terbuka serta mempertimbangkan kebutuhan informasi stakeholder terkait.
F. ARSITEKTUR APLIKASI
Mengingat kompleksnya proses bisnis pada Rumah Sakit, berikut ini gambaran arsitektur minimal dan variabel SIMRS yang dapat mengakomodir kebutuhan informasi.


suatu paket sistem aplikasi yang terintegrasi, yang dihubungkan secara on-line pada semua fungsi pelayanan rumah sakit mulai dari transaksi manajemen antrian, pendaftaran, pelayanan perawatan, pelayanan penunjang, manajemen operasi / bedah sentral, rekam medis, manajemen keperawatan, kasir / mobilisasi dana, pelayanan piutang,  manajemen material, stok barang/obat, akuntansi dan keuangan, kepegawaian, gizi, linen / laundry, dan fungsi pelayanan rumah sakit lainnya.
1. front office
Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, bedah, invasive, diagnostic non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat order/pesanan dari dokter (misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab dan sejenisnya) dan perawat.
Jadi dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit (seluruh order berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem ini sebagai order communation system. Front Office SIMRS meliputi:
1. Antrian registrasi
2. Modul appointment
3. Registrasi
4. Pelayanan informasi
5. Pengaduan
6. Pelayanan informasi
7. Publik

2. Back office
Rumah Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang, mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor, barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan, pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses back office ini berhubungan/link dengan proses pada front office, digambarkan berikut ini.
3. Komuniasi dan Kolaborasi
Ø  Komunikasi
One Medic – One Solutions for Health Information System  merupakan suatu aplikasi piranti lunak yang telah dikembangkan sejak tahun 2008.  Protocol komunikasi yang tersedia telah dilengkapi dengan system keamanan sehingga dapat menekan berbagai tindakan cyber crime oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Desain aplikasi SIMRS One Medic berbasis Web dimana pengguna dapat melakukan integrasi dengan pihak-pihak internal  maupun eksternal secara online’. Manfaat Intergasi secara Online bertujuan untuk mengantisipasi pengulangan pekerjaan administrasi yang dapat memicu terjadinya human error sehingga potensi kerugian Rumah Sakit dapat ditekan.  Fitur-fitur SIMRS One Medic sebagai solusi untuk menjawab tantangan masa depan industri pelayanan medik:
• Security system:  modul ini dapat mengatur informasi dan data  yang diperbolehkan untuk diaksesbaik oleh pihak internal maupun eksternal. Pengaturan tersebut dilakukan selain untuk melindungi kerahasiaan data pasien juga untuk menghindari penyalahgunaan informasi penting lainnya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
• MPI server solutions:  adalah sistim komunikasi online  yang dirancang untuk menjembatani komunikasi antar sistem. Aplikasi MPI server solutions dapat digunakan sebagai alat konfirmasi  hak-hak pasien terhadap jenis tindakan medis dan obat-obatan yang dapat diberikan oleh Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan Pihak Penjamin.a
• Billing records system: seluruh data tindakan medik dan obat-obatan yang diberikan pada pasien otomatis terekam secara online dan dapat diatur sesuai dengan format penagihan yang ditetapkan oleh Pihak Penjamin. Feature ini dapat mempersingkat proses pekerjaan administrasi penagihan sehingga dapat menekan angka piutang.
Untuk media komunikasi informasi antara unit dapat digunakan media komputer yang sudah terintegrasi dengan jaringan LAN dengan menggunakan aplikasi Messenger atau chating, selain itu juga sudah ada nya telepon lokal yang membantu hubungan komunikasi antar unit. Sedangkan untuk akses komunikasi ke luar instansi menggunakan akses internet yang terintegrasi melalui jaringan Pemerintah Kota.
Ø  Kolaborasi
Salah satu kolaborasi untuk mengembangkan SIMRS adalah dalam bentuk Kerjasama Operasional (KSO) atau Build Operational Transfer (BOT). MenurutPSAK no 39, KSO merupakan bentuk kerjasama antara 2 belah pihak atau lebih dimana masing-masing pihak sepakat untuk melakukan suatu usaha bersama dengan menggunakan asset dan/atau hak usaha yang dimiliki dan secara bersama-sama menanggung resiko atas usaha tersebut. RSmempunyai peluang pasar berupa kunjungan pasien sedangkan konsultan/vendor akanbertindak sebagai investor untuk menyediakanteknologi informasi yang selalu update baik berupa 1)Perangkat keras (Server, PC &Jaringan), 2)Perangkat lunak (Software) maupun sumber daya manusia (Brainware) baik tenaga operator ( Data Entry), Programmer maupun tenaga lainnya.
Manfaat utama dari kegiatan KSO SIMRS ini adalah adanya jaminan berkelanjutan serta proses pendampingan/transfer knowledge SIMRS,sehingga akan meminimalkan resiko-resiko kegagalan implementasi di pihak RS dan akan menekan cost/biaya yang dikeluarkan untuk investasi teknologi informasi yang senantiasa selalu update.Pihak rumah sakit berkewajiban untuk menyediakan fasilitas sarana/prasarana untuk menunjang kegiatan operasional KSO SIMRS tersebut. Rumah Sakit akan melakukan pengembalian investasi dengan beberapa alternatif, antara lain pembebanan ke pasienper registrasi/kunjungan/resep atau dana dari komponen unit Bahan Habis Pakai (BHP),komponen unit Jasa Akomodasi maupun daritingkat efisiensi operasional RS. Pihak konsultan mempunyai kewajiban melakukan pengembangan/update, tailor-made(customize) sistem sesuai kebutuhan RS, Transfer Knowledge dan pendampingan operasional selama masa kerjasama tersebut.Rumah Sakit akan menerima sistem secara keseluruhan baik modul aplikasi, source code maupun blue print sistem pada masa akhir kerjasama sehingga RS diharapkan akan menjadi mandiri dalam mengelola SIMRSpasca masa KSO tanpa ketergantungan dari pihak konsultan dan bisa menjadi revenuecenter karena bisa mengembangkan sistem yang ada ke RS yang lain.
4. Infrastruktur Aplikasi
Berdasarkan definisi di atas, maka kita dapat membagi SIMRS menjadi 6 komponen utama guna menunjang terlaksananya penerapan SIMRS yang benar dan sesuai kebutuhan:
• Software (Sistem Informasi Manajeman Rumah Sakit)
• Hardware (perangkat Keras berupa komputer, printer dan lainnya)
• Networking (jaringan LAN, wireless dan lainnya)
• SOP (Standard Operating Procedure)
• Komitmen (komitmen semua unit / departemen / instalasi yang terkait untuk sama-sama mejalankan sistem karena sistem tidak akan berjalan tanpa di-input)
• SDM (sumberdaya manusia adalah faktor utama suksesnya sebuah sistem dimana data di-input dan diproses melalui tenaga SDM tersebut)

Thursday, December 4, 2014

eliminasi urin

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia merupakan salah satu makhluk hidup. Dikatakan sebagai makhluk hidup karena manusia memiliki cirri-ciri diantaranya: dapat bernafas, berkembangbiak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan makan, dan megeluarkan sisa metabolisme tubuh (eliminasi). Setiap kegiatan yang dilakukan tubuh dikarenakan peranan masing-masing organ. Membuang urine dan alvi (eliminasi) merupakan salah satu aktivitas pokok yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena apabila eliminasi tidak dilakukan setiap manusia akan menimbulkan berbagai macam gangguan seperti retensi urine, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung. Selain berbagai macam yang telah disebutkan diatas akan menimbulkan dampak pada system organ lainnya seperti: system pencernaan, ekskresi, dll. Berdasar latar belakang di atas, maka penulis membuat makalah dengan judul “Prinsip Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi dan Pengkajian Eliminasi


1.2 Rumusan Masalah

1. Jelaskan definisi kebutuhan eiminasi urine 

2. Uraikan system tubuh yang berperan dalam eliminasi urine 

3. Jelaskan proses berkemih dan defekasi

4. Uraikan factor yang memepengaruhi eliminasi urine 

5. Jelaskan perubahan pola eliminasi urine 

6. Uraikan masalah-masalah pada kebutuhan eliminasi urine 

7. Uraikan proses keperawatan pada masalah kebutuhan eliminasi urine 


1.3 Tujuan

1. Jelaskan definisi kebutuhan eiminasi urine 

2. Uraikan system tubuh yang berperan dalam eliminasi urine 

3. Jelaskan proses berkemih dan defekasi

4. Uraikan factor yang memepengaruhi eliminasi urine 

5. Jelaskan perubahan pola eliminasi urine 

6. Uraikan masalah-masalah pada kebutuhan eliminasi urine 

7. Uraikan proses keperawatan pada masalah kebutuhan eliminasi urine


BAB II

PEMBAHASAN


A. Definisi Kebutuhan Eliminasi Urine 

Eliminasi urin adalah pengeluaran cairan proses pengeluaran ini sangat tergantung pada fungsi organ-organ eliminasi seperti ginjal, ureter, bledder dan uretra. Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urin. Ureter mengalirkan urin ke bledder. Dalam bledder urin di tampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian di keluarkan melalui uretra. Eliminasi urin adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh yang berupa cairan yang tergantung dari fungsi ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Sehingga urin dapat keluar dengan baik

B. Sistem Tubuh yang Berperan dalam Eliminasi Urine 

Sistem tubuh yang berperan dalma terjadinya proses eliminasi urin adalah ginjal, kandung kemih, dan uretra.

a. Ginjal

Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna coklat agak kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna vertebra posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3.

Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 – 2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hati. Setiap ginjal secara khas berukuran 12 cm x 7 cm dan memiliki berat 120-150gram. Sebuah kelenjar adrenal terletak dikutub superior setiap ginjal, tetapi tidak berhubungan langsung dengan proses eliminasi urine. Setiap ginjal di lapisi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan di kelilingi oleh lapisan lemak.

Pada bagian ginjal terdapat nefron (berjumlah kurang lebih satu juta) yang merupakan unit dari struktur ginjal. Melalui nefron urin disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal, kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.

b. Kandung kemih

Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang terdiri dari dua bagian besar : 

Badan (corpus), merupakan bagian utama kandung kemih dimana urin berkumpul dan, leher (kollum), merupakan lanjutan dari badan yang berbentuk corong, berjalan secara inferior dan anterior ke dalam daerah segitiga urogenital dan berhubungandengan uretra. Bagian yang lebih rendah dari leher kandung kemih disebut uretra posterior karena hubungannya dengan uretra.

Otot polos kandung kemih disebut otot detrusor. Serat-serat ototnya meluas ke segala arah dan bila berkontraksi, dapat meningkatkan tekanan dalam kandung kemih menjadi 40 sampai 60 mmHg. Dengan demikian, kontraksi otot detrusor adalah langkah terpenting untuk mengosongkan kandung kemih. Sel-sel otot polos dari otot detrusor terangkai satu sama lain sehingga timbul aliran listrik berhambatan rendah dari satu sel otot ke sel otot lainnya. Oleh karena itu, potensial aksi dapat menyebar ke seluruh otot detrusor, dari satu sel otot ke sel otot berikutnya, sehingga terjadikontraksi seluruh kandung kemih dengan segera.

Pada dinding posterior kandung kemih, tepat diatas bagian leher dari kandung kemih, terdapat daerah segitiga kecil yang disebut Trigonum. Bagian terendah dari apeks trigonum adalah bagaian kandung kemih yang membuka menuju leher masuk kedalam uretra posterior, dan kedua ureter memasuki kandung kemih pada sudut tertinggi trigonum. Trigonum dapat dikenali dengan melihat mukosa kandung kemih bagian lainnya, yang berlipat-lipat membentuk rugae. Masing-masing ureter, pada saat memasuki kandung kemih, berjalan secara oblique melalui otot detrusor dan kemudian melewati 1 sampai 2 cm lagi dibawah mukosa kandung kemih sebelum mengosongkan diri ke dalam kandung kemih.

Leher kandung kemih (uretra posterior) panjangnya 2 – 3 cm, dan dindingnya terdiri dari otot detrusor yang bersilangan dengan sejumlah besar jaringan elastik. Otot pada daerah ini disebut sfinter internal. Sifat tonusnya secara normal mempertahankan leher kandung kemih dan uretra posterior agar kosong dari urin dan oleh karena itu, mencegah pengosongan kandung kemih sampai tekanan pada daerah utama kandung kemih meningkat di atas ambang kritis.

Setelah uretra posterior, uretra berjalan melewati diafragma urogenital, yang mengandung lapisan otot yang disebut sfingter eksterna kandung kemih. Otot ini merupakan otot lurik yang berbeda otot pada badan dan leher kandung kemih, yang hanya terdiri dari otot polos. Otot sfingter eksterna bekerja di bawah kendali sistem saraf volunter dan dapat digunakan secara sadar untuk menahan miksi bahkan bila kendali involunter berusaha untuk mengosongkan kandung kemih.

c.  Uretra

Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari tubuh melalui meatus uretra. Fungsi uretra pada wanita berbeda dengan yang terdapat pada pria. Pada pria, uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urin dan sistem reproduksi, berukuran panjang 13,7 – 16,2 cm, dan terdiri atas tiga bagian, yaitu prostat. Selaput (membran) dan bagian yang berongga (ruang).

Pada wanita, uretra memiliki panjang 3,7 – 6,2 cm dan hanya berfungsi sebagai tempat menyalurkan urine ke bagian luar tubuh Saluran perkemihan dilapisi oleh membran mukosa, dimulai dari meatus uretra hingga ginjal. Meskipun mikroorganisme secara normal tidak ada yang bisa melewati uretra bagian bawah, membran mukosa ini, pada keadaan patologis, yang terus menerus akan menjadikannya media yang baik untuk pertumbuhan beberapa patogen.

d. Persarafan Kandung Kemih

Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus, yang berhubungan dengan medula spinalis melalui pleksus sakralis, terutama berhubungan dengan medula spinalis segmen S-2 dan S-3. Berjalan melalui nervus pelvikus ini adalah serat saraf sensorik dan serat saraf motorik. Serat sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih. 

Tanda-tanda regangan dari uretra posterior bersifat sangat kuat dan terutama bertanggung jawab untuk mencetuskan refleks yang menyebabkan pengosongan kandung kemih.Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat parasimpatis. Serat ini berakhir pada sel ganglion yang terletak pada dinding kandung kemih. Saraf psot ganglion pendek kemudian mempersarafi otot detrusor.

Selain nervus pelvikus, terdapat dua tipe persarafan lain yang penting untuk fungsi kandung kemih. Yang terpenting adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter eksternus kandung kemih. Ini adalah serat saraf somatik yang mempersarafi dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Juga, kandung kemih menerima saraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus, terutama berhubungan dengan segmen L-2 medula spinalis. Serat simpatis ini mungkin terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih. Beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensasi rasa penuh dan pada beberapa keadaan, rasa nyeri.

Transpor Urin dari Ginjal melalui Ureter dan masuk ke dalam Kandung Kemih Urin yang keluar dari kandung kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus koligentes, tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih.

Urin mengalir dari duktus koligentes masuk ke kaliks renalis, meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan pacemakernya, yang kemudian mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperi juga neuron-neuron pada pleksus intramural dan serat saraf yang meluas diseluruh panjang ureter.

Seperti halnya otot polos pada organ viscera yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis.

Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya, ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa cm menembus dinding kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih meningkat selama berkemih atau sewaktu terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik yang terjadi di sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemih membuka dan memberi kesempatan urin mengalir ke dalam kandung kemih.

Pada beberapa orang, panjang ureter yang menembus dinding kandung kemih kurang dari normal, sehingga kontraksi kandung kemih selama berkemih tidak selalu menimbulkan penutupan ureter secara sempurna. Akibatnya, sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong kembali kedalam ureter, keadaan ini disebut refluks vesikoureteral. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan, jika parah, dapat meningkatkan tekanan di kaliks renalis dan struktur-struktur di medula renalis, mengakibatkan kerusakan daerah ini. Sensasi rasa nyeri pada Ureter dan Refleks Ureterorenal. 

Ureter dipersarafi secara sempurna oleh serat saraf nyeri. Bila ureter tersumbat (contoh : oleh batu ureter), timbul refleks konstriksi yang kuat sehubungan dengan rasa nyeri yang hebat. Impuls rasa nyeri juga menyebabkan refleks simpatis kembali ke ginjal untuk mengkontriksikan arteriol-arteriol ginjal, dengan demikian menurunkan pengeluaran urin dari ginjal. Efek ini disebut refleks ureterorenal dan bersifat penting untuk mencegah aliran cairan yang berlebihan kedalam pelvis ginjal yang ureternya tersumbat.

C.Proses  Berkemih 

Berkemih (mictio, mycturi, voiding atau urination) adalah proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Proses ini di mulai dengan terkumpulnya urine dalam vesika urinaria yang merangsang saraf-saraf sensorik dalam dinding vesika urinaria (bagian reseptor). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila berisi kurang lebih 250-450 cc (pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak¬anak).

Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urin yang dapat menimbulkan rangsangan, melalui medulla spinalis di hantarkan ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral, kemudian otak memberikan impuls/rangsangan melalui medulla spinalis ke neuromotoris di daerah sakral, serta terjadi koneksasi otot detrusor dan relaksasi otot sfingter internal.

Komposisi urin :

•Air (96%)

•Larutan (4%)

•Larutan organic

•urea, amonia, kreatin, dan uric acid

•Larutan anorganik

•Natrium (sodium), klorida, kalium(potasium), sulfat, magnesium, dan fosfor, Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.

D.Faktor yang Mempengaruhi Eleminasi Urine

a)Pertumbuhan dan perkembangan

Usia dan berat badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran urin pada orang tua volume bledder berkurang demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga akan lebih sering

b)Sosiokultural

Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat tertutup dan sebaliknya ada masyarakat yang dapat kemih pada lokasi terbuka

c)Psikologis

Pada keadaan cemas dan stres akan meningkatkan stimulasi berkemih.

d)Kebiasaan seseorang

Misalnya seseorang hanya bisa berkemihdi toilet, sehingga ia tidak dapat berkemih dengan menggunakan pot urine

e)Tonus otot

Eliminasi urin membutuhkan tonus otot bledder, otot abdomen dan pelvis untuk berkontraksi. Jika ada gangguan tonus, otot dorongan untuk berkemih juga akan berkurang.

f)Intake cairan dan makanan

Alkohol menghambat Anti Diuretik Hormon (ADH) untuk meningkatkan pembuangan urin, kopi, teh, coklat, cola (mengandung kafein) dapat meningkatkan pembuangan dan ekskresi urin

g)Kondisi penyakit

Pada pasien yang demam akan terjadi penurunan produksi urin karena banyaj cairan yang di keluarkan melalui kulit. Peradangan dan iritasi organ kemih menimbulkan retensi urin.

h)Pembedahan

Penggunaan anestesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga produksi urin akan menurun.

i)Pengobatan

Penggunaan diuretik menigkatkan output urin, antikolinergik dan anti hipertensi menimbulkan retensi urin.

j)Pemeriksaan diagnostic

pyelogram dimana pasien di batasi intake sebelum prosedur untuk mengurangi output urin.


E.Perubahan pola berkemih

1.Frekuensi

Meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang meningkat, biasanya terjadi pada cystitis, stres dan wanita hamil

2.Urgensy

Perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada anak-anak karena kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang.

3.Dysuria

Rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada infeksi saluran kemih, trauma dan struktur uretra.

4.Polyuria (Diuresis)

Produksi urin melebih;i normal, tanpa peningkatan intake cairan misalnya pada pasien DM.

5.Urinary suppression

Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urin secara tiba-tiba. Anuria (urin kurang dari 100 ml/24 jam), olyguria (urin : 100-500 ml/24 jam)

F.Masalah-masalah pada Kebutuhan Eliminasi Urin

a.Retensi urin

Merupakan penumpukan urin dalam bladder dan ketidak mampuan bladder untuk mengosongkan kandung kemih. Penyebab distensi bladder adalah urin yang terdapat dalam bladder melebihi dari 400 ml. Normalnya adalah 250-400 ml.

b.Inkontinensia urin

Adalah ketidakmampuan otot spinkter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urin. Jenis inkontinensia:

•Inkontinensis Fungsional/urge

Inkotinensis Fungsional ialah keadaan dimana individu mengalami inkontine karena kesulitan dalam mencapai atau ketidak mampuan untuk mencapai toilet sebelum berkemih.

Faktor Penyebab:

•Kerusakan untuk mengenali isyarat kandung kemih.

•Penurunan tonur kandung kemih

•Kerusakan moviliasi, depresi, anietas

•Lingkungan

•Lanjut usia.


•Inkontinensia Stress

Inkotinensia stress ialah keadaan dimana individu mengalami pengeluaran urine segera pada peningkatan dalam tekanan intra abdomen.

Faktor Penyebab:

•Inkomplet outlet kandung kemih

•Tingginya tekanan infra abdomen

•Kelemahan atas peluis dan struktur pengangga

•Lanjut usia


•Inkontinensia Total

Inkotinensia total ialah keadaan dimana individu mengalami kehilangan urine terus menerus yang tidak dapat diperkirakan.

Faktor Penyebab:

•Penurunan Kapasitas kandung kemih.

•Penurunan isyarat kandung kemih

•Efek pembedahan spinkter kandung kemih

•Penurunan tonus kandung kemih

•Kelemahan otot dasar panggul.

•Penurunan perhatian pada isyarat kandung kemih

•Perubahan pola eliminasi

•Frekuensi

•Meningkatnya frekuensi berkemih karena meningkatnya cairan.

•Urgency

•Perasaan seseorang harus berkemih.

•Disaria, Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih.

•Urinari Suprei, Keadaan yang mendesak dimana produksi urine sangat kurang


c.Enurisis

Merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol) yang di akibatkan tidak mempunyai mongontrol spinter eksterna. Biasanya terjadi pada anak-anak atu pada orang jompo.

G. proses keperawatan pada masalah kebutuhan eliminasi urin tindakan    

     keperawatan  

1. Pengkajian 

a. Kebiasaan berkemih

Pengkajian ini meliputi bagaimana kebisaan berkemih serta hambatannya. 

Frekuensi berkemih tergatung pada kebiasaan dan kesempatan. Banyak orang 

berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk 

berkemih pada waktu malam hari.

b. Pola berkemih

• Frekuensi berkemih : frekuesi berkemih menentukan berapa kali individu 

berkemih dalam waktu 24 jam

• Urgensi : Perasaan seseorang untuk berkemih seperti seseorang ke toilet karena takut megalami inkotinensia jika tidak berkemih

• Disuria : Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Keadaan ini ditemukan pada striktur uretra, infeksi saluran kemih, trauma pada    

                 vesika urinaria.

• Poliuria : Keadaan produksi urine yang abnormal yang jumlahnya lebih besar tanpa adanya peingkata asupa caira. Keadaan ini dapat terjadi pada    penyekit diabetes, defisiensi ADH, da pen yakit kronis ginjal.

• Urinaria supresi : Keadaan produksi urine yang berhenti secara medadak. Bila produksi urine kurag dari 100 ml/hari dapat dikataka anuria,  tetapi bila produksiya atara 100 – 500 ml/hari dapat dikataka sebagai oliguria.

c. Volume urine

Volume urine menentukan berapa jumlah urine yang dikeluarka dalam waktu 24 jam.


2. Diagnosa Keperawatan

a. Perubahan pola eliminasi urine berdasarkan : 

• Ketidakmampuan salurab kemih akibat anomali saluran urinaria

• Penurunan kapsitas atau iritasi kandung kemih akibat penyakit

• Kerusakan pada saluran kemih

• Efek pembedahan pada saluran kemih

b. Inkontinensia fungsional berdasarkan :  

• Penurunan isyarat kandung kemih dan kerusakan kemampuan untuk mengenl isyarat akibat cedera atau kerusakan k. Kemih

• Kerusakan mobilitas

• Kehilangan kemampuan motoris dan sensoris

c. Inkontinensia refleks berdasarkan gagalnya fungsi rangsang di atas tingkatan 

    arkus refleks akibat cedera pada m. spinalis

d. Inkontinensia stress berdasarkan : 

• Tingginya tek. Intraabdimibal dan lemahnya otor peviks akibat kehamilan

 • Penurunan tonus otot

e. Inkontinensia total berdasarkan defisit komnikasi atau persepsi

f. Inkontinensia dorongan berdasarkan penurunan kapasitas k. Kemih akibat 

   penyakit infeksi, trauma, tindakan pembedahan, faktor penuaan

g. Retesi urine berdasarkan adanya hambatan pada sfingter akibat penyakit 

   struktur, BHP

h. Perubahan body image berdasarkan inkontinensia dan enuresis

i. Resiko terjadinya infeksi salura kemih berdasarkan pemasangan kateter, 

   kebersihan perineum yang kurang

j. Resiko perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d gangguan drainase  

   ureterostomi.


3. Perencanaan Keperawatan

Tujuan :

a. Memahami arti eliminasi urine

b. Membantu mengosongkan kandung kemih secara penuh

c. Mencegah infeksi

d. Mempertahankan integritas kulit

e. Memberikan rasa nyaman

f. Mengembalikan fungsi kandung kemih

g. Memberikan asupan secara tepat

h. Mencegah kerusakan kulit

i. Memulihkan self sistem atau mencegah tekanan emosional


Rencanakan Tindakan :

a. Monitor/obervasi perubahan faktor, tanda dan gejala terhadap masalah 

    perubahan eliminasi urine, retensi dan urgensia

b. Kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah

c. Monitor terus perubahan retensi urine

d. Lakukan kateterisasi urine

Inkontinensia dorongan

a. Pertahankan hidrasi secara optimal

b. Ajarkan untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dengan cara 

c. Ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi kontraksi kandung kemih  

    yang tidak biasa)

d. Anjurkan berkemih pada saat terjaga seperti setelah makan, latihan fisik, mandi

e. Anjurkan untuk menahan sampai waktu berkemih

f. lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi iritasi kandung kemih


4. Tindakan Keperawatan

Pengumpulan Urine untuk bahan pemeriksaan Mengingat tujuan pemeriksaan berbeda-beda, maka pengambilan sampel 

urine  juga dibeda-bedakan sesuai dengan tujuannya. Cara pengambilan urinet ersebut atara lain : pegambilan urine biasa, pegambila urine steril dan 

pengumpulan selama 24 jam.

a. Pengambilan urine biasa merupaka pengambilan urine dengan cara    

mengeluarkan urine seperti biasa, yaitu buang air kecil. Biasanya untuk 

memeriksa gula atau kehamilan.

b. Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan cara dengan 

menggunakan alat steril, dilakukan dengan menggunakan alat steril, dilakukan 

dengan keteterisasi atau pungsi supra pubis. Pengambilan urine steril bertujuan 

mengetahui adanya infeksi pada uretra, ginjal atau saluran kemih lainnya.

c. Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang 

dikumpulkan dalam 24 jam, bertujuan untuk mengeetahui jumlah urine selama 24 

jam dan mnegukur berat jenis urine, asupan dan pengeluaran serta mengetahui 

fungsi ginjal.

Menolong untuk buang air kecil dengan menggunakan urinal

Menolong BAK dengan menggunakan urinal merupakan tindakan keperawatan 

dengan membantu pasien yang tidak mampu BAK sendiri dikamar kecil dengan 

menggunakan alat penampung dengan tujuan menampung urine dan mengetahui 

kelainan urine (warna dan jumlah)

Melakukan kateterisasi

Indikasi :

a. Tipe Intermitten 

• Tidak mampu berkemih 8 – 12 jam setelah operasi

• Retensi akut setelah trauma uretra

• Tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesic

• Cedera pada tulang belakang

• Degenerasi neuromuskular secara progresif

• Pengeluaran urine residual

b. Tipe Indwelling

• Obstruksi aliran urine

• Pasca operasi saluran uretra dan struktur disekitarnya

• Obstruksi uretra

• Inkontinensia dan disorientasi berat

Menggunakan kondom kateter

Menggunakan kondom kateter merupakan tindakan keperawata dengan cara 

memeberikan kondom kateter pada pasine yang tidak mampu mengontrol 

berkemih. Cara ini bertujuan agar pasine dapat berkemih dan 

mempertahankannya.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan terhadap gangguan kebutuhan eliminasi urine secara umum 

dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam :

a. Miksi dengan normal, ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan obat, kompresi pada kandung kemih atau kateter.

b. Mengosongkan kandung kemih, ditunjukkan dengan berkurannya distensi, volume urine residu, dan lancarnya kepatenan drainase

c. Mencegah infeksi/ bebas dari infeksi, ditunjukkan dengan tidak adanya infeksi, tidak ditemukan adanya disuria, urgensi, frekuensi, dan rasa terbakar

d. Mempertahankan intergritas kulit, ditunjukkan dengan adanya perineal kering tanpa inflamasi an kulit di sekitar uterostomi kering.

e. Memberikan pasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disuria, tidak ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang.

f. Melakukan Bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih.






















BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan


Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar). Organ yang berperan dalam eliminasi urine adalah: ginjal, kandung kemih dan uretra. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine terjadi proses berkemih. Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine adalah diet, asupan, respon keinginan awal untuk berkemih kebiasaan seseorang dan stress psikologi. Gangguan kebutuhan eliminasi urine adalah retensi urine,inkontinensia urine dan enuresis. Dan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan, buang air kecil dengan urineal dan melakukan katerisasi. 

DAFTAR PUSTAKA


A.Azis Alimul H.kebutuhan dasar manusia.2006.Salemba Medika.Jakarta.

Guyton & Hall, Textbook of Medical Physiology. Despopoulos & Agamemnon, Color. 

http://mochfaizalhamzah.blogspot.com/2013/10/kdk1-kebutuhan-eliminasi-urin.html