Data Kesehatan Kementrian Kesehatan tahun 2012 dari 5 Kota/Kab di Jawa Barat
mengenai persentase jumlah Balita dengan gizi buruk. Dari data tabel diatas
diketahui bawha perentase yang paling rendah ada di kota bogor, kemudian ada
kota sukabumi, sukabumi, bogor, dan yang paling tertinggi adalah cianjur
Fadila (변백현)
Monday, January 5, 2015
Sunday, December 14, 2014
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT PENYELENGGARAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKI
A.LATAR
BELAKANG
Dalam
menjalankan fungsi pembinaan upaya kesehatan, Direktorat Jenderal yang
menyelenggarakan urusan di bidang bina upaya kesehatan Kementerian Kesehatan
membutuhkan informasi yang handal, tepat, cepat dan terbarukan (up to date)
untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan secara
tepat. Sebagai salah satu bentuk fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan, Rumah Sakit sering mengalami kesulitan dalam
pengelolaan informasi baik untuk kebutuhan internal maupun eksternal. sehingga
perlu diupayakan peningkatan pengelolaan informasi yang efisien, cepat, mudah,
akurat, murah, aman, terpadu dan akuntabel. Salah satu bentuk penerapannya
melalui sistem pelayanan dengan memanfaatkan teknologi informasi melalui
penggunaan sistem Sistem Informasi berbasis komputer.
Pesatnya
kemajuan teknologi di bidang informasi telah melahirkan perubahan tatanan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kaitan ini, peran dan
fungsi pelayanan data dan informasi yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit sebagai
salah satu unit kerja pengelola data dan Informasi dituntut untuk mampu
melakukan berbagai penyesuaian dan perubahan. Sistem Informasi dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan pelayanan data dan informasi dengan lebih
produktif, transparan, tertib, cepat, mudah, akurat, terpadu, aman dan efisien,
khususnya membantu dalam memperlancar dan mempermudah pembentukan kebijakan
dalam meningkatkan sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang
penyelenggaraan Rumah Sakit di Indonesia.
Banyak
Rumah Sakit yang telah berupaya untuk membangun dan mengembangkan sistem
informasi, namun sebagian mengalami kegagalan, dan sebagian Rumah Sakit memilih
untuk melakukan kerja sama operasional (outsourcing) dengan biaya yang relatif
besar yang pada akhirnya ikut membebani biaya kesehatan bagi pasien/masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut di atas, Direktorat Jenderal yang menyelenggarakan
urusan di bidang Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan memandang perlunya
membangun kerangka acuan kerja (framework) dan perangkat lunak (software)
aplikasi sistem informasi Rumah Sakit yang bersifat sumber terbuka umum (open
source generic) untuk Rumah Sakit di Indonesia. Dengan adanya software aplikasi
open source generik ini diharapkan Rumah Sakit di Indonesia dapat menggunakan,
mengembangkan, mengimplementasi dan memelihara sendiri. Sehingga akan terdapat
keseragaman data yang dikirim kepada Kementerian Kesehatan.
B.STRATEGI
Tata
kelola sistem informasi yang baik harus selaras dengan fungsi, visi, misi dan
strategi organisasi. Secara generik fungsi Rumah Sakit (menurut WHO tahun
1957), memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik kuratif
maupun rehabilitatif, dimana output layanannya menjangkau pelayanan keluarga
dan lingkungan, Rumah Sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan
serta untuk penelitian biososial. Rumah sakit juga merupakan pusat pelayanan
rujukan medik spsialistik dan sub spesialistik dengan fungsi utama menyediakan
dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan
pemulihan (rehabilitasi pasien).
Dengan
demikian secara umum sistem informasi Rumah Sakit harus selaras dengan bisnis
utama (core bussines) dari Rumah Sakit itu sendiri, terutama untuk informasi
riwayat kesehatan pasien atau rekam medis (tentang indentitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada
pasien), informasi kegiatan operasional (termasuk informasi sumber daya
manusia, material, alat kesehatan, penelitian serta bank data. Keberhasilan
implementasi sistem informasi bukan hanya ditentukan oleh teknologi informasi
tetapi juga oleh faktor lain, seperti proses bisnis, perubahan manajemen, tata
kelola IT dan lain-lainnya. Karena itu bukan hanya teknologi tetapi juga
kerangka kerja secara komprehensif sistem informasi Rumah Sakit.
C.PROSES
BISNIS
1.Pelayanan
Utama (Front Office)
Setiap
Rumah Sakit memiliki prosedur yang unik (berbeda satu dengan lainnya), tetapi
secara umum/generik memiliki prosedur pelayanan terintegrasi yang sama yaitu
proses pendaftaran, proses rawat (jalan atau inap) dan proses pulang.
Data
yang dimasukan pada proses rawat akan digunakan pada proses rawat dan pulang.
Selama proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan
dan tindakan dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi,
bedah, invasive, diagnostic non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat
order/pesanan dari dokter (misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab
dan sejenisnya) dan perawat.
Jadi
dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit
(seluruh order berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem
ini sebagai order communation system.
2.Pelayanan
Administratif (Back-Office)
Rumah
Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang,
mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor,
barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit
unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan,
pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan
SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses
back office ini berhubungan/link dengan proses pada front office, digambarkan
berikut ini.
Proses
bisnis data tidak terstruktur
Proses-proses
bisnis tersebut di atas yang melibatkan data-data terstruktur, yang dapat
dikelola dengan relational database management system, selain itu terdapat
proses bisnis yang melibatkan data yang tidak terstruktur seperti alur kerja,
surat diposisi, email, manajemen proyek, kolaborasi, team work, manajemen
dokumen dan sejenisnya.
D.ARSITEKTUR
INFRASTRUKTUR
Kebutuhan
infrastruktur jaringan komputer kedepan bukan hanya untuk kebutuhan Sistem
informasi RS saja, tetapi juga harus mampu digunakan untuk berbagai hal,
seperti jalur telepon IP, CCTV, Intelegent Building, Medical Equipment dan
lain-lain. Untuk mendukung pelayanan
tersebut, maka infrastruktur jaringan komunikasi data yang disyaratkan adalah:
•
Meningkatkan unjuk kerja dan memudahkan untuk melakukan manajemen lalu lintas
data pada jaringan komputer, seperti utilisasi, segmentasi jaringan, dan
security.
• Membatasi broadcase domain pada jaringan,
duplikasi IP address dan segmentasi jaringan menggunakan VLAN (virtual LAN)
untuk setiap gedung dan atau lantai.
•
Memiliki jalur backbone fiber optik dan backup yang berbeda jalur, pada keadaan
normal jalur backup digunakan untuk memperkuat kinerja jaringan/redudant, tapi
dalam keadaan darurat backup jaringan dapat mengambil alih kegagalan jaringan.
• Memanfaatkan peralatan aktif yang ada, baik
untuk melengkapi kekurangan sumber daya maupun sebagai backup.
•
Dianjurkan pemasangan oleh vendor jaringan yang tersertifikasi (baik perkabelan
maupun perangkat aktif).
•
Dokumentasi sistem jaringan lengkap (perkabelan, konfigurasi, uji coba, dan
sejenisnya) baik hardcopy maupun softcopy.
•
Mengingat penggunaan jaringan yang komplek kedepan, maka perangkat aktif
mengharuskan pengelolaan bertingkat, seperti adanya:
a.
Core switch yang merupakan device vital
dalam local area network di Rumah Sakit dimana core switch ini sebagai bacbone
lan dan sentral switch yang berperan dalam prosessing semua paket dengan
memproses atau men-switch traffic secepat mungkin).
b.
Distribution switch yang merupakan suatu
device antara untuk keperluan pendistribusian akses antar core switch dengan
access switch pada masing-masing gedung, dimana antara sebaiknya distribution
switch dan core switch terhubung melalui fiber optic.
c.
Acces switch yang merupakan suatu device yang
menyediakan user port untuk akses ke network.
E.ARSITEKTUR
DATA
Untuk
menghindari pulau-pulau aplikasi dan memudahkan Kementerian Kesehatan mengolah
data yang homogen, maka perlu dibuat arsitektur data yang baik, untuk mengakomodir
kebutuhan informasi para pengguna. Beberapa aspek harus diperhatikan dalam
membangun arsitektur data:
1.Kodefikasi
Kodefikasi
selain keharusan untuk otomatisasi/komputerisasi, juga diperlukan untuk
integrasi dan penglolaan lebih lanjut seperti statistik.
2.Mapping
Karena
sering berbeda keperluan kodefikasi data, maka diperlukan mapping data untuk
integrasi dan pengelolaan lebih lanjut, misalnya mapping kodefikasi antara
tarif dengan kode perkiraan/chart of account, mapping kode kabupaten/kota
dengan provinsi dan sejenisnya.
3.Standar
pertukaran data antar aplikasi
Beberapa
software aplikasi yang terpisah, membutuhkan standard pertukaran data agar
dapat berkomunikasi satu aplikasi dengan lainnya. Seperti Heath Level 7 (HL7),
DICOM, XML dan sejenisnya.
4.Database
Desain
struktur database, sebaiknya mengacu pada best practice database Rumah Sakit
dan mengambil dari sumber terbuka serta mempertimbangkan kebutuhan informasi
stakeholder terkait.
F.
ARSITEKTUR APLIKASI
Mengingat kompleksnya
proses bisnis pada Rumah Sakit, berikut ini gambaran arsitektur minimal dan
variabel SIMRS yang dapat mengakomodir kebutuhan informasi.
suatu paket sistem aplikasi yang terintegrasi, yang
dihubungkan secara on-line pada semua fungsi pelayanan rumah sakit mulai dari
transaksi manajemen antrian, pendaftaran, pelayanan perawatan, pelayanan
penunjang, manajemen operasi / bedah sentral, rekam medis, manajemen
keperawatan, kasir / mobilisasi dana, pelayanan piutang, manajemen
material, stok barang/obat, akuntansi dan keuangan, kepegawaian, gizi,
linen / laundry, dan fungsi pelayanan rumah sakit lainnya.
1.
front office
Selama
proses perawatan, pasien akan menggunakan sumber daya, mendapat layanan dan
tindakan dari unit-unit seperti farmasi, laboratorium, radiologi, gizi, bedah,
invasive, diagnostic non invasive dan lainnya. Unit tersebut mendapat
order/pesanan dari dokter (misalnya berupa resep untuk farmasi, formulir lab
dan sejenisnya) dan perawat.
Jadi
dokter dan perawat sebagai aktor/SDM inti pada proses bisnis Rumah Sakit
(seluruh order berasal dari mereka). Karena itu kami menyebutkan inti sistem
ini sebagai order communation system. Front Office SIMRS meliputi:
1.
Antrian registrasi
2.
Modul appointment
3.
Registrasi
4.
Pelayanan informasi
5.
Pengaduan
6.
Pelayanan informasi
7.
Publik
2.
Back office
Rumah
Sakit merupakan unit yang mengelola sumber daya fisik (manusia, uang,
mesin/alat kesehatan/aset, material seperti obat, reagen, alat tulis kantor,
barang habis pakai dan sejenisnya). Walaupun proses bisnis setiap Rumah Sakit
unik tapi tetap terdapat proses umum, diantaranya perencanaan,
pembelian/pengadaan, pemeliharaan stok/inventory, pengelolaan Aset, pengelolaan
SDM, pengelolaan uang (hutang, piutang, kas, buku besar dan lainnya). Proses
back office ini berhubungan/link dengan proses pada front office, digambarkan
berikut ini.
3.
Komuniasi dan Kolaborasi
Ø Komunikasi
One
Medic – One Solutions for Health Information System merupakan suatu aplikasi piranti lunak yang
telah dikembangkan sejak tahun 2008.
Protocol komunikasi yang tersedia telah dilengkapi dengan system
keamanan sehingga dapat menekan berbagai tindakan cyber crime oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab.
Desain
aplikasi SIMRS One Medic berbasis Web dimana pengguna dapat melakukan integrasi
dengan pihak-pihak internal maupun
eksternal secara online’. Manfaat Intergasi secara Online bertujuan untuk
mengantisipasi pengulangan pekerjaan administrasi yang dapat memicu terjadinya
human error sehingga potensi kerugian Rumah Sakit dapat ditekan. Fitur-fitur SIMRS One Medic sebagai solusi
untuk menjawab tantangan masa depan industri pelayanan medik:
•
Security system: modul ini dapat
mengatur informasi dan data yang
diperbolehkan untuk diaksesbaik oleh pihak internal maupun eksternal.
Pengaturan tersebut dilakukan selain untuk melindungi kerahasiaan data pasien
juga untuk menghindari penyalahgunaan informasi penting lainnya oleh
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
•
MPI server solutions: adalah sistim
komunikasi online yang dirancang untuk
menjembatani komunikasi antar sistem. Aplikasi MPI server solutions dapat
digunakan sebagai alat konfirmasi
hak-hak pasien terhadap jenis tindakan medis dan obat-obatan yang dapat
diberikan oleh Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan Pihak Penjamin.a
•
Billing records system: seluruh data tindakan medik dan obat-obatan yang
diberikan pada pasien otomatis terekam secara online dan dapat diatur sesuai
dengan format penagihan yang ditetapkan oleh Pihak Penjamin. Feature ini dapat
mempersingkat proses pekerjaan administrasi penagihan sehingga dapat menekan
angka piutang.
Untuk
media komunikasi informasi antara unit dapat digunakan media komputer yang
sudah terintegrasi dengan jaringan LAN dengan menggunakan aplikasi Messenger
atau chating, selain itu juga sudah ada nya telepon lokal yang membantu
hubungan komunikasi antar unit. Sedangkan untuk akses komunikasi ke luar
instansi menggunakan akses internet yang terintegrasi melalui jaringan
Pemerintah Kota.
Ø Kolaborasi
Salah
satu kolaborasi untuk mengembangkan SIMRS adalah dalam bentuk Kerjasama
Operasional (KSO) atau Build Operational Transfer (BOT). MenurutPSAK no 39, KSO
merupakan bentuk kerjasama antara 2 belah pihak atau lebih dimana masing-masing
pihak sepakat untuk melakukan suatu usaha bersama dengan menggunakan asset
dan/atau hak usaha yang dimiliki dan secara bersama-sama menanggung resiko atas
usaha tersebut. RSmempunyai peluang pasar berupa kunjungan pasien sedangkan
konsultan/vendor akanbertindak sebagai investor untuk menyediakanteknologi
informasi yang selalu update baik berupa 1)Perangkat keras (Server, PC
&Jaringan), 2)Perangkat lunak (Software) maupun sumber daya manusia
(Brainware) baik tenaga operator ( Data Entry), Programmer maupun tenaga
lainnya.
Manfaat
utama dari kegiatan KSO SIMRS ini adalah adanya jaminan berkelanjutan serta
proses pendampingan/transfer knowledge SIMRS,sehingga akan meminimalkan
resiko-resiko kegagalan implementasi di pihak RS dan akan menekan cost/biaya
yang dikeluarkan untuk investasi teknologi informasi yang senantiasa selalu
update.Pihak rumah sakit berkewajiban untuk menyediakan fasilitas
sarana/prasarana untuk menunjang kegiatan operasional KSO SIMRS tersebut. Rumah
Sakit akan melakukan pengembalian investasi dengan beberapa alternatif, antara
lain pembebanan ke pasienper registrasi/kunjungan/resep atau dana dari komponen
unit Bahan Habis Pakai (BHP),komponen unit Jasa Akomodasi maupun daritingkat
efisiensi operasional RS. Pihak konsultan mempunyai kewajiban melakukan
pengembangan/update, tailor-made(customize) sistem sesuai kebutuhan RS,
Transfer Knowledge dan pendampingan operasional selama masa kerjasama
tersebut.Rumah Sakit akan menerima sistem secara keseluruhan baik modul
aplikasi, source code maupun blue print sistem pada masa akhir kerjasama
sehingga RS diharapkan akan menjadi mandiri dalam mengelola SIMRSpasca masa KSO
tanpa ketergantungan dari pihak konsultan dan bisa menjadi revenuecenter karena
bisa mengembangkan sistem yang ada ke RS yang lain.
4.
Infrastruktur Aplikasi
Berdasarkan
definisi di atas, maka kita dapat membagi SIMRS menjadi 6 komponen utama guna
menunjang terlaksananya penerapan SIMRS yang benar dan sesuai kebutuhan:
•
Software (Sistem Informasi Manajeman Rumah Sakit)
•
Hardware (perangkat Keras berupa komputer, printer dan lainnya)
•
Networking (jaringan LAN, wireless dan lainnya)
•
SOP (Standard Operating Procedure)
•
Komitmen (komitmen semua unit / departemen / instalasi yang terkait untuk
sama-sama mejalankan sistem karena sistem tidak akan berjalan tanpa di-input)
•
SDM (sumberdaya manusia adalah faktor utama suksesnya sebuah sistem dimana data
di-input dan diproses melalui tenaga SDM tersebut)
Thursday, December 4, 2014
eliminasi urin
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan salah satu makhluk hidup. Dikatakan sebagai makhluk hidup karena manusia memiliki cirri-ciri diantaranya: dapat bernafas, berkembangbiak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan makan, dan megeluarkan sisa metabolisme tubuh (eliminasi). Setiap kegiatan yang dilakukan tubuh dikarenakan peranan masing-masing organ. Membuang urine dan alvi (eliminasi) merupakan salah satu aktivitas pokok yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena apabila eliminasi tidak dilakukan setiap manusia akan menimbulkan berbagai macam gangguan seperti retensi urine, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung. Selain berbagai macam yang telah disebutkan diatas akan menimbulkan dampak pada system organ lainnya seperti: system pencernaan, ekskresi, dll. Berdasar latar belakang di atas, maka penulis membuat makalah dengan judul “Prinsip Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi dan Pengkajian Eliminasi
1.2 Rumusan Masalah
1. Jelaskan definisi kebutuhan eiminasi urine
2. Uraikan system tubuh yang berperan dalam eliminasi urine
3. Jelaskan proses berkemih dan defekasi
4. Uraikan factor yang memepengaruhi eliminasi urine
5. Jelaskan perubahan pola eliminasi urine
6. Uraikan masalah-masalah pada kebutuhan eliminasi urine
7. Uraikan proses keperawatan pada masalah kebutuhan eliminasi urine
1.3 Tujuan
1. Jelaskan definisi kebutuhan eiminasi urine
2. Uraikan system tubuh yang berperan dalam eliminasi urine
3. Jelaskan proses berkemih dan defekasi
4. Uraikan factor yang memepengaruhi eliminasi urine
5. Jelaskan perubahan pola eliminasi urine
6. Uraikan masalah-masalah pada kebutuhan eliminasi urine
7. Uraikan proses keperawatan pada masalah kebutuhan eliminasi urine
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kebutuhan Eliminasi Urine
Eliminasi urin adalah pengeluaran cairan proses pengeluaran ini sangat tergantung pada fungsi organ-organ eliminasi seperti ginjal, ureter, bledder dan uretra. Ginjal memindahkan air dari darah dalam bentuk urin. Ureter mengalirkan urin ke bledder. Dalam bledder urin di tampung sampai mencapai batas tertentu yang kemudian di keluarkan melalui uretra. Eliminasi urin adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh yang berupa cairan yang tergantung dari fungsi ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Sehingga urin dapat keluar dengan baik
B. Sistem Tubuh yang Berperan dalam Eliminasi Urine
Sistem tubuh yang berperan dalma terjadinya proses eliminasi urin adalah ginjal, kandung kemih, dan uretra.
a. Ginjal
Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna coklat agak kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna vertebra posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3.
Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 – 2 cm dari ginjal kanan karena posisi anatomi hati. Setiap ginjal secara khas berukuran 12 cm x 7 cm dan memiliki berat 120-150gram. Sebuah kelenjar adrenal terletak dikutub superior setiap ginjal, tetapi tidak berhubungan langsung dengan proses eliminasi urine. Setiap ginjal di lapisi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan di kelilingi oleh lapisan lemak.
Pada bagian ginjal terdapat nefron (berjumlah kurang lebih satu juta) yang merupakan unit dari struktur ginjal. Melalui nefron urin disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal, kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.
b. Kandung kemih
Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang terdiri dari dua bagian besar :
Badan (corpus), merupakan bagian utama kandung kemih dimana urin berkumpul dan, leher (kollum), merupakan lanjutan dari badan yang berbentuk corong, berjalan secara inferior dan anterior ke dalam daerah segitiga urogenital dan berhubungandengan uretra. Bagian yang lebih rendah dari leher kandung kemih disebut uretra posterior karena hubungannya dengan uretra.
Otot polos kandung kemih disebut otot detrusor. Serat-serat ototnya meluas ke segala arah dan bila berkontraksi, dapat meningkatkan tekanan dalam kandung kemih menjadi 40 sampai 60 mmHg. Dengan demikian, kontraksi otot detrusor adalah langkah terpenting untuk mengosongkan kandung kemih. Sel-sel otot polos dari otot detrusor terangkai satu sama lain sehingga timbul aliran listrik berhambatan rendah dari satu sel otot ke sel otot lainnya. Oleh karena itu, potensial aksi dapat menyebar ke seluruh otot detrusor, dari satu sel otot ke sel otot berikutnya, sehingga terjadikontraksi seluruh kandung kemih dengan segera.
Pada dinding posterior kandung kemih, tepat diatas bagian leher dari kandung kemih, terdapat daerah segitiga kecil yang disebut Trigonum. Bagian terendah dari apeks trigonum adalah bagaian kandung kemih yang membuka menuju leher masuk kedalam uretra posterior, dan kedua ureter memasuki kandung kemih pada sudut tertinggi trigonum. Trigonum dapat dikenali dengan melihat mukosa kandung kemih bagian lainnya, yang berlipat-lipat membentuk rugae. Masing-masing ureter, pada saat memasuki kandung kemih, berjalan secara oblique melalui otot detrusor dan kemudian melewati 1 sampai 2 cm lagi dibawah mukosa kandung kemih sebelum mengosongkan diri ke dalam kandung kemih.
Leher kandung kemih (uretra posterior) panjangnya 2 – 3 cm, dan dindingnya terdiri dari otot detrusor yang bersilangan dengan sejumlah besar jaringan elastik. Otot pada daerah ini disebut sfinter internal. Sifat tonusnya secara normal mempertahankan leher kandung kemih dan uretra posterior agar kosong dari urin dan oleh karena itu, mencegah pengosongan kandung kemih sampai tekanan pada daerah utama kandung kemih meningkat di atas ambang kritis.
Setelah uretra posterior, uretra berjalan melewati diafragma urogenital, yang mengandung lapisan otot yang disebut sfingter eksterna kandung kemih. Otot ini merupakan otot lurik yang berbeda otot pada badan dan leher kandung kemih, yang hanya terdiri dari otot polos. Otot sfingter eksterna bekerja di bawah kendali sistem saraf volunter dan dapat digunakan secara sadar untuk menahan miksi bahkan bila kendali involunter berusaha untuk mengosongkan kandung kemih.
c. Uretra
Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari tubuh melalui meatus uretra. Fungsi uretra pada wanita berbeda dengan yang terdapat pada pria. Pada pria, uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urin dan sistem reproduksi, berukuran panjang 13,7 – 16,2 cm, dan terdiri atas tiga bagian, yaitu prostat. Selaput (membran) dan bagian yang berongga (ruang).
Pada wanita, uretra memiliki panjang 3,7 – 6,2 cm dan hanya berfungsi sebagai tempat menyalurkan urine ke bagian luar tubuh Saluran perkemihan dilapisi oleh membran mukosa, dimulai dari meatus uretra hingga ginjal. Meskipun mikroorganisme secara normal tidak ada yang bisa melewati uretra bagian bawah, membran mukosa ini, pada keadaan patologis, yang terus menerus akan menjadikannya media yang baik untuk pertumbuhan beberapa patogen.
d. Persarafan Kandung Kemih
Persarafan utama kandung kemih ialah nervus pelvikus, yang berhubungan dengan medula spinalis melalui pleksus sakralis, terutama berhubungan dengan medula spinalis segmen S-2 dan S-3. Berjalan melalui nervus pelvikus ini adalah serat saraf sensorik dan serat saraf motorik. Serat sensorik mendeteksi derajat regangan pada dinding kandung kemih.
Tanda-tanda regangan dari uretra posterior bersifat sangat kuat dan terutama bertanggung jawab untuk mencetuskan refleks yang menyebabkan pengosongan kandung kemih.Saraf motorik yang menjalar dalam nervus pelvikus adalah serat parasimpatis. Serat ini berakhir pada sel ganglion yang terletak pada dinding kandung kemih. Saraf psot ganglion pendek kemudian mempersarafi otot detrusor.
Selain nervus pelvikus, terdapat dua tipe persarafan lain yang penting untuk fungsi kandung kemih. Yang terpenting adalah serat otot lurik yang berjalan melalui nervus pudendal menuju sfingter eksternus kandung kemih. Ini adalah serat saraf somatik yang mempersarafi dan mengontrol otot lurik pada sfingter. Juga, kandung kemih menerima saraf simpatis dari rangkaian simpatis melalui nervus hipogastrikus, terutama berhubungan dengan segmen L-2 medula spinalis. Serat simpatis ini mungkin terutama merangsang pembuluh darah dan sedikit mempengaruhi kontraksi kandung kemih. Beberapa serat saraf sensorik juga berjalan melalui saraf simpatis dan mungkin penting dalam menimbulkan sensasi rasa penuh dan pada beberapa keadaan, rasa nyeri.
Transpor Urin dari Ginjal melalui Ureter dan masuk ke dalam Kandung Kemih Urin yang keluar dari kandung kemih mempunyai komposisi utama yang sama dengan cairan yang keluar dari duktus koligentes, tidak ada perubahan yang berarti pada komposisi urin tersebut sejak mengalir melalui kaliks renalis dan ureter sampai kandung kemih.
Urin mengalir dari duktus koligentes masuk ke kaliks renalis, meregangkan kaliks renalis dan meningkatkan pacemakernya, yang kemudian mencetuskan kontraksi peristaltik yang menyebar ke pelvis renalis dan kemudian turun sepanjang ureter, dengan demikian mendorong urin dari pelvis renalis ke arah kandung kemih. Dinding ureter terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis seperi juga neuron-neuron pada pleksus intramural dan serat saraf yang meluas diseluruh panjang ureter.
Seperti halnya otot polos pada organ viscera yang lain, kontraksi peristaltik pada ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihambat oleh perangsangan simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum kandung kemih. Normalnya, ureter berjalan secara oblique sepanjang beberapa cm menembus dinding kandung kemih. Tonus normal dari otot detrusor pada dinding kandung kemih cenderung menekan ureter, dengan demikian mencegah aliran balik urin dari kandung kemih waktu tekanan di kandung kemih meningkat selama berkemih atau sewaktu terjadi kompresi kandung kemih. Setiap gelombang peristaltik yang terjadi di sepanjang ureter akan meningkatkan tekanan dalam ureter sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemih membuka dan memberi kesempatan urin mengalir ke dalam kandung kemih.
Pada beberapa orang, panjang ureter yang menembus dinding kandung kemih kurang dari normal, sehingga kontraksi kandung kemih selama berkemih tidak selalu menimbulkan penutupan ureter secara sempurna. Akibatnya, sejumlah urin dalam kandung kemih terdorong kembali kedalam ureter, keadaan ini disebut refluks vesikoureteral. Refluks semacam ini dapat menyebabkan pembesaran ureter dan, jika parah, dapat meningkatkan tekanan di kaliks renalis dan struktur-struktur di medula renalis, mengakibatkan kerusakan daerah ini. Sensasi rasa nyeri pada Ureter dan Refleks Ureterorenal.
Ureter dipersarafi secara sempurna oleh serat saraf nyeri. Bila ureter tersumbat (contoh : oleh batu ureter), timbul refleks konstriksi yang kuat sehubungan dengan rasa nyeri yang hebat. Impuls rasa nyeri juga menyebabkan refleks simpatis kembali ke ginjal untuk mengkontriksikan arteriol-arteriol ginjal, dengan demikian menurunkan pengeluaran urin dari ginjal. Efek ini disebut refleks ureterorenal dan bersifat penting untuk mencegah aliran cairan yang berlebihan kedalam pelvis ginjal yang ureternya tersumbat.
C.Proses Berkemih
Berkemih (mictio, mycturi, voiding atau urination) adalah proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Proses ini di mulai dengan terkumpulnya urine dalam vesika urinaria yang merangsang saraf-saraf sensorik dalam dinding vesika urinaria (bagian reseptor). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila berisi kurang lebih 250-450 cc (pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak¬anak).
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urin yang dapat menimbulkan rangsangan, melalui medulla spinalis di hantarkan ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral, kemudian otak memberikan impuls/rangsangan melalui medulla spinalis ke neuromotoris di daerah sakral, serta terjadi koneksasi otot detrusor dan relaksasi otot sfingter internal.
Komposisi urin :
•Air (96%)
•Larutan (4%)
•Larutan organic
•urea, amonia, kreatin, dan uric acid
•Larutan anorganik
•Natrium (sodium), klorida, kalium(potasium), sulfat, magnesium, dan fosfor, Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.
D.Faktor yang Mempengaruhi Eleminasi Urine
a)Pertumbuhan dan perkembangan
Usia dan berat badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran urin pada orang tua volume bledder berkurang demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga akan lebih sering
b)Sosiokultural
Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat tertutup dan sebaliknya ada masyarakat yang dapat kemih pada lokasi terbuka
c)Psikologis
Pada keadaan cemas dan stres akan meningkatkan stimulasi berkemih.
d)Kebiasaan seseorang
Misalnya seseorang hanya bisa berkemihdi toilet, sehingga ia tidak dapat berkemih dengan menggunakan pot urine
e)Tonus otot
Eliminasi urin membutuhkan tonus otot bledder, otot abdomen dan pelvis untuk berkontraksi. Jika ada gangguan tonus, otot dorongan untuk berkemih juga akan berkurang.
f)Intake cairan dan makanan
Alkohol menghambat Anti Diuretik Hormon (ADH) untuk meningkatkan pembuangan urin, kopi, teh, coklat, cola (mengandung kafein) dapat meningkatkan pembuangan dan ekskresi urin
g)Kondisi penyakit
Pada pasien yang demam akan terjadi penurunan produksi urin karena banyaj cairan yang di keluarkan melalui kulit. Peradangan dan iritasi organ kemih menimbulkan retensi urin.
h)Pembedahan
Penggunaan anestesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga produksi urin akan menurun.
i)Pengobatan
Penggunaan diuretik menigkatkan output urin, antikolinergik dan anti hipertensi menimbulkan retensi urin.
j)Pemeriksaan diagnostic
pyelogram dimana pasien di batasi intake sebelum prosedur untuk mengurangi output urin.
E.Perubahan pola berkemih
1.Frekuensi
Meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan yang meningkat, biasanya terjadi pada cystitis, stres dan wanita hamil
2.Urgensy
Perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi pada anak-anak karena kemampuan spinter untuk mengontrol berkurang.
3.Dysuria
Rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada infeksi saluran kemih, trauma dan struktur uretra.
4.Polyuria (Diuresis)
Produksi urin melebih;i normal, tanpa peningkatan intake cairan misalnya pada pasien DM.
5.Urinary suppression
Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urin secara tiba-tiba. Anuria (urin kurang dari 100 ml/24 jam), olyguria (urin : 100-500 ml/24 jam)
F.Masalah-masalah pada Kebutuhan Eliminasi Urin
a.Retensi urin
Merupakan penumpukan urin dalam bladder dan ketidak mampuan bladder untuk mengosongkan kandung kemih. Penyebab distensi bladder adalah urin yang terdapat dalam bladder melebihi dari 400 ml. Normalnya adalah 250-400 ml.
b.Inkontinensia urin
Adalah ketidakmampuan otot spinkter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urin. Jenis inkontinensia:
•Inkontinensis Fungsional/urge
Inkotinensis Fungsional ialah keadaan dimana individu mengalami inkontine karena kesulitan dalam mencapai atau ketidak mampuan untuk mencapai toilet sebelum berkemih.
Faktor Penyebab:
•Kerusakan untuk mengenali isyarat kandung kemih.
•Penurunan tonur kandung kemih
•Kerusakan moviliasi, depresi, anietas
•Lingkungan
•Lanjut usia.
•Inkontinensia Stress
Inkotinensia stress ialah keadaan dimana individu mengalami pengeluaran urine segera pada peningkatan dalam tekanan intra abdomen.
Faktor Penyebab:
•Inkomplet outlet kandung kemih
•Tingginya tekanan infra abdomen
•Kelemahan atas peluis dan struktur pengangga
•Lanjut usia
•Inkontinensia Total
Inkotinensia total ialah keadaan dimana individu mengalami kehilangan urine terus menerus yang tidak dapat diperkirakan.
Faktor Penyebab:
•Penurunan Kapasitas kandung kemih.
•Penurunan isyarat kandung kemih
•Efek pembedahan spinkter kandung kemih
•Penurunan tonus kandung kemih
•Kelemahan otot dasar panggul.
•Penurunan perhatian pada isyarat kandung kemih
•Perubahan pola eliminasi
•Frekuensi
•Meningkatnya frekuensi berkemih karena meningkatnya cairan.
•Urgency
•Perasaan seseorang harus berkemih.
•Disaria, Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih.
•Urinari Suprei, Keadaan yang mendesak dimana produksi urine sangat kurang
c.Enurisis
Merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol) yang di akibatkan tidak mempunyai mongontrol spinter eksterna. Biasanya terjadi pada anak-anak atu pada orang jompo.
G. proses keperawatan pada masalah kebutuhan eliminasi urin tindakan
keperawatan
1. Pengkajian
a. Kebiasaan berkemih
Pengkajian ini meliputi bagaimana kebisaan berkemih serta hambatannya.
Frekuensi berkemih tergatung pada kebiasaan dan kesempatan. Banyak orang
berkemih setiap hari pada waktu bangun tidur dan tidak memerlukan waktu untuk
berkemih pada waktu malam hari.
b. Pola berkemih
• Frekuensi berkemih : frekuesi berkemih menentukan berapa kali individu
berkemih dalam waktu 24 jam
• Urgensi : Perasaan seseorang untuk berkemih seperti seseorang ke toilet karena takut megalami inkotinensia jika tidak berkemih
• Disuria : Keadaan rasa sakit atau kesulitan saat berkemih. Keadaan ini ditemukan pada striktur uretra, infeksi saluran kemih, trauma pada
vesika urinaria.
• Poliuria : Keadaan produksi urine yang abnormal yang jumlahnya lebih besar tanpa adanya peingkata asupa caira. Keadaan ini dapat terjadi pada penyekit diabetes, defisiensi ADH, da pen yakit kronis ginjal.
• Urinaria supresi : Keadaan produksi urine yang berhenti secara medadak. Bila produksi urine kurag dari 100 ml/hari dapat dikataka anuria, tetapi bila produksiya atara 100 – 500 ml/hari dapat dikataka sebagai oliguria.
c. Volume urine
Volume urine menentukan berapa jumlah urine yang dikeluarka dalam waktu 24 jam.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan pola eliminasi urine berdasarkan :
• Ketidakmampuan salurab kemih akibat anomali saluran urinaria
• Penurunan kapsitas atau iritasi kandung kemih akibat penyakit
• Kerusakan pada saluran kemih
• Efek pembedahan pada saluran kemih
b. Inkontinensia fungsional berdasarkan :
• Penurunan isyarat kandung kemih dan kerusakan kemampuan untuk mengenl isyarat akibat cedera atau kerusakan k. Kemih
• Kerusakan mobilitas
• Kehilangan kemampuan motoris dan sensoris
c. Inkontinensia refleks berdasarkan gagalnya fungsi rangsang di atas tingkatan
arkus refleks akibat cedera pada m. spinalis
d. Inkontinensia stress berdasarkan :
• Tingginya tek. Intraabdimibal dan lemahnya otor peviks akibat kehamilan
• Penurunan tonus otot
e. Inkontinensia total berdasarkan defisit komnikasi atau persepsi
f. Inkontinensia dorongan berdasarkan penurunan kapasitas k. Kemih akibat
penyakit infeksi, trauma, tindakan pembedahan, faktor penuaan
g. Retesi urine berdasarkan adanya hambatan pada sfingter akibat penyakit
struktur, BHP
h. Perubahan body image berdasarkan inkontinensia dan enuresis
i. Resiko terjadinya infeksi salura kemih berdasarkan pemasangan kateter,
kebersihan perineum yang kurang
j. Resiko perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d gangguan drainase
ureterostomi.
3. Perencanaan Keperawatan
Tujuan :
a. Memahami arti eliminasi urine
b. Membantu mengosongkan kandung kemih secara penuh
c. Mencegah infeksi
d. Mempertahankan integritas kulit
e. Memberikan rasa nyaman
f. Mengembalikan fungsi kandung kemih
g. Memberikan asupan secara tepat
h. Mencegah kerusakan kulit
i. Memulihkan self sistem atau mencegah tekanan emosional
Rencanakan Tindakan :
a. Monitor/obervasi perubahan faktor, tanda dan gejala terhadap masalah
perubahan eliminasi urine, retensi dan urgensia
b. Kurangi faktor yang mempengaruhi/penyebab masalah
c. Monitor terus perubahan retensi urine
d. Lakukan kateterisasi urine
Inkontinensia dorongan
a. Pertahankan hidrasi secara optimal
b. Ajarkan untuk meningkatkan kapasitas kandung kemih dengan cara
c. Ajarkan pola berkemih terencana (untuk mengatasi kontraksi kandung kemih
yang tidak biasa)
d. Anjurkan berkemih pada saat terjaga seperti setelah makan, latihan fisik, mandi
e. Anjurkan untuk menahan sampai waktu berkemih
f. lakukan kolaborasi dengan tim dokter dalam mengatasi iritasi kandung kemih
4. Tindakan Keperawatan
Pengumpulan Urine untuk bahan pemeriksaan Mengingat tujuan pemeriksaan berbeda-beda, maka pengambilan sampel
urine juga dibeda-bedakan sesuai dengan tujuannya. Cara pengambilan urinet ersebut atara lain : pegambilan urine biasa, pegambila urine steril dan
pengumpulan selama 24 jam.
a. Pengambilan urine biasa merupaka pengambilan urine dengan cara
mengeluarkan urine seperti biasa, yaitu buang air kecil. Biasanya untuk
memeriksa gula atau kehamilan.
b. Pengambilan urine steril merupakan pengambilan urine dengan cara dengan
menggunakan alat steril, dilakukan dengan menggunakan alat steril, dilakukan
dengan keteterisasi atau pungsi supra pubis. Pengambilan urine steril bertujuan
mengetahui adanya infeksi pada uretra, ginjal atau saluran kemih lainnya.
c. Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang
dikumpulkan dalam 24 jam, bertujuan untuk mengeetahui jumlah urine selama 24
jam dan mnegukur berat jenis urine, asupan dan pengeluaran serta mengetahui
fungsi ginjal.
Menolong untuk buang air kecil dengan menggunakan urinal
Menolong BAK dengan menggunakan urinal merupakan tindakan keperawatan
dengan membantu pasien yang tidak mampu BAK sendiri dikamar kecil dengan
menggunakan alat penampung dengan tujuan menampung urine dan mengetahui
kelainan urine (warna dan jumlah)
Melakukan kateterisasi
Indikasi :
a. Tipe Intermitten
• Tidak mampu berkemih 8 – 12 jam setelah operasi
• Retensi akut setelah trauma uretra
• Tidak mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesic
• Cedera pada tulang belakang
• Degenerasi neuromuskular secara progresif
• Pengeluaran urine residual
b. Tipe Indwelling
• Obstruksi aliran urine
• Pasca operasi saluran uretra dan struktur disekitarnya
• Obstruksi uretra
• Inkontinensia dan disorientasi berat
Menggunakan kondom kateter
Menggunakan kondom kateter merupakan tindakan keperawata dengan cara
memeberikan kondom kateter pada pasine yang tidak mampu mengontrol
berkemih. Cara ini bertujuan agar pasine dapat berkemih dan
mempertahankannya.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan terhadap gangguan kebutuhan eliminasi urine secara umum
dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam :
a. Miksi dengan normal, ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan obat, kompresi pada kandung kemih atau kateter.
b. Mengosongkan kandung kemih, ditunjukkan dengan berkurannya distensi, volume urine residu, dan lancarnya kepatenan drainase
c. Mencegah infeksi/ bebas dari infeksi, ditunjukkan dengan tidak adanya infeksi, tidak ditemukan adanya disuria, urgensi, frekuensi, dan rasa terbakar
d. Mempertahankan intergritas kulit, ditunjukkan dengan adanya perineal kering tanpa inflamasi an kulit di sekitar uterostomi kering.
e. Memberikan pasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disuria, tidak ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang.
f. Melakukan Bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar). Organ yang berperan dalam eliminasi urine adalah: ginjal, kandung kemih dan uretra. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine terjadi proses berkemih. Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine adalah diet, asupan, respon keinginan awal untuk berkemih kebiasaan seseorang dan stress psikologi. Gangguan kebutuhan eliminasi urine adalah retensi urine,inkontinensia urine dan enuresis. Dan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan, buang air kecil dengan urineal dan melakukan katerisasi.
DAFTAR PUSTAKA
A.Azis Alimul H.kebutuhan dasar manusia.2006.Salemba Medika.Jakarta.
Guyton & Hall, Textbook of Medical Physiology. Despopoulos & Agamemnon, Color.
http://mochfaizalhamzah.blogspot.com/2013/10/kdk1-kebutuhan-eliminasi-urin.html
Subscribe to:
Posts (Atom)

